
UIN Siber Cirebon (Babadan) – Mahasiswa KKN Literasi Baca-Tulis Kelompok 43 UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon melaksanakan kegiatan bertajuk “Pendidikan Inklusif di Desa Babadan” di SDN 1 Babadan, Kecamatan Gunungjati, Kabupaten Cirebon. Program ini berfokus pada penguatan pembelajaran ramah anak berkebutuhan khusus (ABK) sekaligus pengembangan budaya literasi bagi seluruh siswa.(26/08).
Acara ini diikuti oleh siswa-siswi SDN 1 Babadan, termasuk beberapa anak berkebutuhan khusus, dengan pendampingan dari guru dan mahasiswa KKN. Melalui pendekatan inklusif, kegiatan dirancang agar setiap anak mendapatkan kesempatan belajar yang sama, khususnya dalam keterampilan membaca dan menulis.
Media Belajar Interaktif untuk ABK
Dalam kegiatan ini, mahasiswa memperkenalkan media pembelajaran interaktif yang dirancang lebih adaptif dan mudah dipahami oleh anak-anak berkebutuhan khusus. Metode belajar kreatif ini tidak hanya membantu mereka dalam mengenal huruf dan kata, tetapi juga membangkitkan semangat belajar bersama teman-teman sekelasnya.
Kepala SDN 1 Babadan, Bapak Riono, menegaskan pentingnya penerapan pendidikan inklusif di sekolah pedesaan.
“Di SDN 1 Babadan, terdapat beberapa anak yang berkebutuhan khusus baik secara fisik maupun mental, sehingga sekolah kami menghadirkan pembelajaran yang inklusif. Dengan cara ini, semua anak tetap bisa belajar bersama dan mendapatkan hak pendidikan yang sama,” ujarnya.
Kolaborasi Mahasiswa dan Sekolah
Kegiatan ini merupakan hasil kerja sama antara mahasiswa KKN dan pihak sekolah. Guru bersama mahasiswa merancang pola pembelajaran yang humanis, partisipatif, dan adaptif, sehingga anak-anak tidak hanya diajarkan keterampilan baca-tulis, tetapi juga nilai-nilai keberagaman, kesetaraan, dan kebersamaan.
Mahasiswa KKN 43 berharap kegiatan ini dapat menjadi inspirasi bagi sekolah lain, terutama di wilayah pedesaan, untuk mengembangkan model pendidikan inklusif meski dengan keterbatasan fasilitas.
Dampak Nyata bagi Masyarakat
Program ini memberikan manfaat langsung bagi siswa, guru, dan orang tua. Siswa lebih bersemangat belajar, guru memperoleh pengalaman baru dalam mengelola kelas inklusif, sementara orang tua melihat harapan baru bahwa anak-anak mereka – termasuk ABK – dapat tumbuh dan belajar tanpa diskriminasi.
Dengan adanya kegiatan ini, Desa Babadan menjadi contoh nyata bahwa pendidikan inklusif bisa diterapkan di tingkat lokal, sejalan dengan komitmen global dalam memberikan akses pendidikan merata bagi semua anak.