Pramuka IAIN Cirebon mengenalkan Paksi Naga Liman dan Batik Mega Mendung (Icon Cirebon) pada PW PTK XIV di UIN Suska Riau

Ethno Carnival Paksi Naga Liman dan Batik Mega Mendung pada kegiatan PW PTK XIV di UIN Suska Riau (03/05/2018)

PW PTK XIV Se-Indonesia Tahun 2018 yang diselenggarakan pada tanggal 03 – 10 Mei 2018 bertempat di UIN Sultan Syarif Kasim Riau. Kontingen IAIN Syekh Nurjati Cirebon mengutus 9 orang putra dan 9 orang putri. Pada tanggal 03 Mei 2018 pembukaan Perkemahan Wirakarya Perguruan Tinggi Keagamaan (PW PTK) XIV Se-Indonesia Tahun 2018 di UIN Sultan Syarif Kasim Riau. Perkemahan Wirakarya (PW) PTK XIV Tahun 2018 kali ini diikuti oleh 66 kontingen pramuka penegak dan pandega yang berada di seluruh Indonesia dan dibuka secara langsung oleh Mentri Agama Republik Indonesia, H. Lukman Hakim Saifuddin. Selain itu ada juga kegiatan Devile  dan Ethno Carnival, dalam Ethno Carnival kali ini barisan Kontingen IAIN Syekh Nurjati Cirebon menampilkan Pakaian Adat Khas Daerah Cirebon, Kostum Paksi Naga Liman (Kereta kencana yang dimiliki Keratin Kanoman) dan Batik Mega Mendung yang digunakan pada syal delegasi dan di lukis pada wajah (Icon Batik Daerah Cirebon).

PAKSI NAGA LIMAN

Kostum Paksi naga Liman terinspirasi dari kereta kencana yang di miliki oleh keraton kanoman, yang mana keraton kanoman merupakan salah satu keraton yang ada di Cirebon. Kereta ini digunakan oleh raja keraton kanoman untuk menghadiri upacara kebesaran serta digunakan untuk kirab pengantin keluarga sultan kanoman.

Paksi Naga Liman berasal dari tiga kata yaitu Paksi (Burung) dengan badan bersayap yang berarti symbol negeri Timur Tengah dan unsur islam yang diturunkan di Timur Tengah. Naga (Naga) yang mewujudkan penguasa caruban yang dinamakan “Mang” sebagai simbolisasi atas Negeri Tiongkok dan kandungan Annasir (Pemahaman Budha). Dan Liman (Gajah) yang merupaka symbol Ganesha sebagai putra Dewa Siwa dari Negeri India. Selain itu Paksi Naga Liman disimbolkan Cirebon sebagai negeri tempat terjadinya Asimilasi dan Pluralisasi dari tiga kebudayaan serta menempatkan Cirebon sebagai puncak keunggulan peradaban pada masanya dan diisyarakatkan sebagai kejayaan kedaulatan, dimana burung sebagai penjaga kedaulatan di udara (Jaya Dirgantara), naga sebagai penjaga kedaulatan laut (Jaya Bahari), dan gajah sebagai penjaga kedaulatan di darat (Jaya Bumi).

BATIK MEGA MENDUNG

Motif batik Megamendung merupakan karya seni batik yang identik dan bahkan menjadi ikon batik daerah Cirebon. Setiap motif batik mega mendung mengandung filosofi yang tinggi terhadap para pemakainya, yaitu bahwasanya setiap manusia harus mampu meredam amarah dalam kondisi terpuruk atau sedih atau kondisi yang merefleksikan sebuah situasi dimana saat menerima tekanan mental kita harus mampu mengontrol sikap, tindakan, dan perilaku dalam konteks positif. Intinya sikap bijaksana dalam kondisi apapun terutama saat situasi awan mendung (sedih, terpuruk, menderita, dan lainnya), ibarat awan yang selalu muncul ketika suasana mendung terjadi yang mampu menyejukkan suasana di sekitarnya. Setiap warna yang timbul pada setiap motif batik mega mendung merupakan representasi dari sebuah kepemimpinan yang mengayomi (bijaksana) rakyatnya. Hal tersebut ditunjukkan pada warna biru (sifat seorang pemimpin) yang dipadu dengan gradasi warna sebanyak tujuh lapis pada ornamen awannya, untuk merepresentasikan wujud lapisan langit sebanyak tujuh, begitu juga bumi yang memiliki 7 lapisan tanah, dan 7 hari dalam seminggu. Motif batik mega mendung mungkin terlihat sederhana, namun sarat akan makna yang luhur.

Ethno Carnival Paksi Naga Liman dan Batik Mega Mendung pada kegiatan PW PTK XIV di UIN Suska Riau (03/05/2018)
Foto bersama kontingen IAIN Syekh Nurjati Cirebon dengan Rektor IAIN Cirebon Dr. H. Sumanta, M.Ag  didampingi wakil rektor III Dr. H. Farihin, M. Pd pada kegiatan PW PTK XIV di UIN Suska Riau (03/05/2018)
Foto bersama Pembina Pramuka IAIN Syekh Nurjati Cirebon dengan Rektor dan wakil rektor III pada kegiatan PW PTK XIV di UIN Suska Riau (03/05/2018)