Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LP2M) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syekh Nurjati Cirebon meluncurkan program Gerakan Masyarakat Magrib Mengaji (Gemmar Mengaji) yang akan diterapkan disejumlah masjid di Kota Cirebon sebagai salah satu bentuk pengabdian kampus terhadap masyarakat. Ketua LP2M IAIN Syekh Nurjati Cirebon, Dr. H. Ahmad Yani, M. Ag mengungkapkan, pelaksanaan program tersebut nampaknya sedikit terkendala akibat pandemi Covid-19 yang tengah mewabah di sejumlah wilayah, tak terkecuali di Kota Cirebon. Beliau juga penjelasan beberapa tahapan terkait pelaksanaan program tersebut tetap akan dimulai dalam waktu dekat ini. “Program ini akan diawali dengan rekruitmen ustadz atau guru ngaji, ini kan bisa memakai google form. Dan itu akan kami mulai laksanakan. Kita utamakan dari IAIN dulu, masa sih dari 12 ribu mahasiswa IAIN tidak ada mahasiswa yang hebat. Standarnya di IAIN itu lulus PPTQ aja, trus ada sertifikat belajar metode iqro atau qiroati.” Senin (13/4/2020).

Beliu menjelaskan, pihaknya juga akan melakukan observasi masjid yang akan menjadi sasaran dan masjid yang telah menjadi sasaran. Untuk hal ini, pihaknya juga akan melakukannya dengan segera, karena pihaknya telah mempunyai data terkait keberadaan sekitar 400 masjid yang ada di Kota Cirebon dan tinggal dimapping saja. “Dalam program magrib mengaji ini ada 4 pihak yang akan terlibat, yaitu IAIN Cirebon, Pemda Kota Cirebon, LPTQ dan Depag Kota. Tetapi saat ini leading sektornya IAIN Cirebon dan sementara ini segala sesuatunya masih dari IAIN.

Untuk pendaftaran guru ngaji yang melalui online tersebut beliau menerangkan, salah satu persyaratannya adalah dengan membuat video pendek dengan merekam yang bersangkutan saat mengaji. Pasalnya, kata dia, jika hal itu direkam hanya menggunakan suara, bisa saja mereka menggunakan suara orang lain saat mengaji. “Mereka membuat video pendek saat mengaji kemudian dikirim. Soalnya kalau voice record bisa saja mereka pakai suara orang lain. Tahapan itu bisa melalui online, karena saat ini situasinya sedang begini (pandemi Covid-19).”  Namun, pihaknya tetap optimis pelaksanaan program tersebut dapat berjalan tahun ini, yaitu sekitar 3 sampai 4 bulan lagi menunggu situasi normal kembali. “Kami optimis tahun ini dapat terealisasi. Walaupun di bulan Oktober, November, atau Desember untuk praksis ke lapangannya.

Bagikan ini: